Sekolah di Garis Depan Perang (Catatan dari Suriah-7)

ALEPPO, Sabtu (SahabatAlAqsha.com | SahabatSuriah.com): Anak-anak Aleppo bisa diterjang peluru sniper rezim Assad di mana saja mereka berada di kota itu. Atau tertimpa roket dan mortir. Atau digempur serangan udara jet-jet bikinan Rusia. Tapi anak-anak di sekolah yang kami kunjungi pagi itu menolak untuk menyerah. Sejak empat minggu sebelum kami berkunjung, mereka beranikan diri memenuhi undangan untuk belajar di situ.

Nama sekolah itu diambil dari sahabat perempuan Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam Khaula binti Azwar atau Khaula binti Azur. Perempuan hebat ini penunggang kuda trengginas yang menerobos garis depan, mendahului pasukan Jenderal Khalid bin Walid saat membebaskan negeri Syam dari penjajahan Romawi. Salah satu misinya membebaskan saudara lelakinya yang ditawan musuh. Dengan izin Allah, Khaula dan pasukannya berhasil.

Sekolah Khaula binti Azwar terletak di Aleppo Lama, jantungnya kota yang telah menyaksikan ribuan tahun pergantian peradaban satu dengan lainnya. Sejak Yunani, Romawi, Jalur Sutera, Islam, Khalid bin Walid, Nuruddin Zinki, Salahuddin Al-Ayyubi… Ketika kami berjalan di bawah hujan rintik musim dingin, tembok-tembok tua itu seperti memandangi kami. Kadang sambil ngobrol dan tertawa bebas. Kadang berjalan mengendap-endap, merundukkan kepala, jika diperingatkan bahwa di salah satu sudut ada sasaran sniper.

Dentuman bom, mortir, rentetan senjata sudah mulai terdengar sejak azan subuh selesai berkumandang. Dingin menusuk tulang, tapi hati rasanya berbuncah hangat karena diberi tahu pagi ini kita akan mengunjungi sebuah sekolah.

Ketika kami tiba, sekolah ini benar-benar di tengah kota tua yang terbelah dua, antara yang sudah dibebaskan para Mujahidin, dengan yang masih dikuasai rezim Nusairiyah-Alawiyah ngamuk yang ngotot tak mau berhenti berkuasa.

Jumlah muridnya sekitar 250 orang di sembilan kelas. Kelas sembilan memisahkan murid lelaki dan perempuan. Dipimpin seorang hafizh Al-Quran yang kita sebut saja Ustadz Yahya. Pria murah senyum yang bicaranya sangat lembut ini, bukan saja punya ijazah sanad hafalan yang tersambung ke Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam, tapi juga ia menguasai qira’ah sab’ah, tujuh jenis bacaan Al-Quran yang paling shahih yang tersambung ke para Sahabat Rasulullah.

Karena tidak banyak buku yang tersisa, Allah arahkan sekolah ini memfokuskan pelajaran utamanya pada Al-Quran dan hadits-hadits yang dihafal para gurunya. Ditambah baca, tulis, berhitung, geografi, ilmu hayat, fisika, semampu guru-gurunya. Saat dijumpai beberapa gurunya masih remaja, berusia antara 15 sampai 27 tahun. Mereka menolak difoto.

Menurut Ustadz Yahya, gedung tua sekolah ini dulunya sekolah milik pemerintah. Sesudah setahun perang, sekolah itu ditutup. Empat minggu sebelum kami berkunjung sekolah itu dibuka dengan nama baru. Gratis. Setiap pagi para murid diberi makan sepotong roti isi dan sebutir apel atau jeruk. Para guru adalah pemuda dan pemudi (tepatnya remaja) yang memilih bertahan di tengah perang dan bersedia mengajar tanpa digaji.

“Bantuan dana bisa datang dari mana saja, Allah Maha Pemberi rezeki,” jelas Ustadz Yahya. Tim Relawan kita langsung memutuskan untuk menitipkan USD1,000 (kurang dari Rp 10.000.000) untuk keperluan sekolah itu, kepada Ustadz Yahya. Insya Allah kita bertekad meneruskan bantuan untuk sekolah ini.

Administrasi sekolah darurat ini cukup rapi. Ustadz Yahya menunjukkan sebuah buku berisi rincian nama murid, tempat dan tanggal lahir, nama orang tua/wali, alamat, dan nomor telefon.

Kelas pertama yang kami kunjungi kelas empat. Sekelompok gadis kecil menutup wajahnya ketika dibidik kamera. Sesudah dikenalkan, bahwa tamunya dari Indonesia suasana agak cair. Relawan kita langsung duduk di kursi paling belakang, di sebelah dua orang murid yang menjawab jabatan tangan malu-malu.

Kelas kedua yang kami datangi lebih ramai. Kelas satu. Satu meja dipenuhsesaki tiga murid. Cantik dan ganteng. Ada yang baju hangatnya baru dan bagus, tapi lebih banyak yang lusuh dan agak kotor. Diminta membaca Al-Fatihah, langsung terdengar suara merdu beramai-ramai. Diminta menyanyikan lagu “Muhammad Nabiinaa…” kelas itu langsung riuh rendah, lengkap dengan kepala yang miring ke kanan dan ke kiri…

Salah satu relawan kita bertanya kepada murid-murid di kelas empat, “Sudah ratusan ribu rakyat Suriah yang mengungsi ke luar negeri, kenapa kalian dan orang tua kalian tidak hijrah meninggalkan Aleppo?”

Cara mereka menjawab dan pilihan kalimatnya bikin bulu kuduk kami berdiri…

Satu demi satu murid itu berdiri tegak dan menjawab lantang, beberapa dengan suara serak:

“Karena kami akan teguh bertahan di sini…”

“Karena kami tidak akan meninggalkan kota ini…”

“Karena kami membela kebenaran..!”

“Karena kami di jalan Allah…!”

“Karena kami sedang menunggu pertolongan Allah…!”

Silakan berkenalan dengan mereka di bawah ini. Pandangi lekat-lekat bola mata mereka. Ejakan doa untuk mereka. * (Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah)

foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah (dari Aleppo)
foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah (dari Aleppo)

 

foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah (dari Aleppo)
foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah (dari Aleppo)
foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah (dari Aleppo)
foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah (dari Aleppo)
foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah (dari Aleppo)

 

Roti isi yang dibagikan gratis untuk murid-murid sekolah Khaula binti Azwar, Aleppo. foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah (dari Aleppo)

 

foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah (dari Aleppo)

 

foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah (dari Aleppo)

 

foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah (dari Aleppo)

 

foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah (dari Aleppo)

 

Anak-anak yang menolak untuk menyerah, tak mau meninggalkan Aleppo. Sekolah Khaula binti Azwar. foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah (dari Aleppo)

Bank Syariah Mandiri
No. Rek 7799 880 002

BNI Syariah
No. Rek 7799 880 007

an. Sahabat Al Aqsha Yayasan

Konfirmasi SMS/WhatsApp: +62 877 00998 002
Konfirmasi E-mail: konfirmasi@sahabatalaqsha.com