Apa yang Sedang Terjadi di Suriah

Dr Haitham al-Haddad
Ketua Muslim Research and Development Foundation, London

THE Arab Spring atau ‘musim semi negeri-negeri Arab’ yang dimulai dua tahun lalu telah membawa banyak perubahan positif di sebagian besar negara Arab. Lalu sekarang, banyak yang bertanya-tanya mengapa revolusi Suriah membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai tujuan utamanya, yaitu menyingkirkan rezim terkejam di dunia.

Ada beberapa alasan yang masuk akal terkait hal ini. Misalnya, kurangnya dukungan yang memadai dari seluruh rakyat Suriah, termasuk para perwira militernya dan minimnya dukungan komunitas internasional. Sejauh ini, hanya Iran dan Rusia yang diketahui memberikan dukungan terus menerus kepada rezim presiden Suriah, Bashar al-Assad.

Rusia dan Iran, masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda terhadap Suriah. Dukungan negara Syiah Iran kepada rezim Assad lebih terpusat pada kepentingan ideologis dan strategis. sementara Rusia merasa pengaruh ekonomi dan strateginya di Timur Tengah hanya bisa dicapai melalui Suriah. Dalam perspektif yang lain, kesuksesan revolusi Suriah akan menjadi ancaman yang berat bagi ‘Israel’ mengingat Suriah di bawah pemimpinnya yang penganut Syiah merupakan satu dari banyak sekutu dan pelindung rahasia (secret allies) negara Zionis itu.

Seperti halnya Mesir, Suriah adalah sebuah lahan yang dapat membangkitkan semangat kesatuan yang sangat kuat di antara umat Muslim dan secara historis, Suriah adalah alasan utama berakhirnya penjajahan Tentara Salib atas Palestina dan masjid suci Al-Aqsha pada abad ke-12.

Amerika

Amerika Serikat, pendukung utama ‘Israel’ yang terus memonitor semua peristiwa di Suriah khawatir kalau krisis Suriah akan jatuh ke tangan-tangan yang ‘salah’. Bagi Amerika dan Eropa, tangan yang ‘salah’ ini mereka artikan bukan saja sebagai para ‘jihadists’ tetapi juga orang Islam mana saja yang menolak tunduk kepada imperialisme Amerika dan mungkin, suatu saat, menantang Zionis Israel.

Amerika mempunyai beberapa pilihan – dia bisa berharap bahwa Bashar al-Assad akan menghabisi seluruh rakyatnya, atau mendukung rakyat Suriah dalam melawan rezim brutal Assad yang akan sangat mungkin menyebabkan jatuhnya kekuasaan ke tangan-tangan ‘yang salah’ – yakni mereka yang disebut sebagai ‘Islamists’ yang kemudian akan mengambil-alih (kekuasaan).

Tapi tampaknya Amerika yang tidak peduli pada apapun, apa lagi cuma ‘sekedar’ nyawa manusia, kecuali bila berkaitan dengan kepentingannya sendiri, juga tidak ambil pusing terhadap pembunuhan besar-besaran yang dilakukan rezim nusairi (al-Assad) yang kelihatannya bertekad benar hendak menghabisi separuh dari penduduk Suriah dan menghancurkan keseluruhan negeri Suriah, (dan karenanya Amerika) akan hanya sekedar duduk diam sambil menimbang-nimbang milik siapakah ‘tangan yang tepat’ yang nantinya akan menjadi pelindung ‘Israel’.

Lagi pula Amerika pun tidak melihat berakhirnya rezim Iran sebagai sesuatu yang menguntungkan, baik secara ideologis maupun strategik. Hal ini mengingat berakhirnya rezim Iran berarti bangkitnya Sunni atau ahlus sunnah di Timur Tengah yang tentunya bertentangan dengan kepentingan Amerika.

Situasinya menjadi semakin kompleks dengan tidak ada satu pun negara yang mampu mengambilalih kendali situasi. Antakya, kawasan utama di daerah perbatasan antara Suriah dan Turki semakin lama semakin mirip dengan Peshawar pada masa Jihad Afghan melawan Russia. Bahkan, sebenarnya Amerika justru lebih suka melihat ‘solusi Yugoslavia’ (terjadi di Suriah) di mana pihak Barat lalu mendukung semua pihak (yang berkonflik) sedemikian rupa sehingga tidak ada satu pun pihak yang dapat memenangkan perang. Begitu semua faksi di Yugoslavia melemah, maka dengan mudah Barat memaksakan masuknya agenda mereka.

Di Mana Negara-negara Arab?

Lalu dimanakah negara-negara Arab dalam krisis Suriah ini?

Memang benar bahwa sejumlah negara Arab dan Muslim sangat ingin melihat berakhirnya masalah Suriah ini, tapi mereka tidak bisa mengambil inisiatif tanpa restu Amerika.

Turki, satu-satunya negara Muslim yang paling mampu mengubah kondisi konflik ini sehingga menguntungkan revolusi juga memiliki sejumlah titik lemah yang ingin mereka lindungi. (Betapa pun) orang-orang Kurdi merupakan ancaman besar bagi Turki dan banyak orang Kurdi sebenarnya adalah boneka-boneka yang digerakkan oleh tangan-tangan Amerika. Selain itu, bangsa Kurdi memiliki populasi Alawiyyah/nusairi yang cukup besar di sebelah selatan (Turki) yang dapat menyebabkan gangguan besar (bagi Turki).

Masa Depan ada Pada Allah

Lalu akan bagaimana jadinya masa depan nanti? Spanduk besar yang dikibarkan kelompok-kelompok revolusi Suriah dan orang-orang pribadi dari sejak awal adalah, “Kami tidak memiliki siapa pun, kecuali Engkau ya Allah”.

Bila memang demikian, maka orang-orang Suriah selayaknya mewujudkan hal ini dalam semua urusan mereka, dan tidak meletakkan harapan merekap pada kekuasaan siapapun kecuali kekuasaan Allah. Suriah harus terus waspada agar perjuangan mereka tidak dibajak oleh Amerika dan Barat, baik secara langsung atau pun melalui tangan-tangan yang mewakili Amerika.

Dan mereka juga harus bersatu, sebagaimana firman Allah: “Taat dan patuhlah kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah saling berselisih yang menyebabkan kamu menjadi gagal dan hilang kekuatanmu serta bersabarlah. Sungguh Allah berada di pihak orang yang sabar”. (Al-Quran surah Al-Anfaal <8>: 46)

Sebagaimana sudah dikemukakan, Amerika berusaha mendukung partai-partai tertentu melawan partai-partai yang lain dalam rangka menciptakan fitnah dan perpecahan di antara mereka. Rakyat Suriah harus berhati-hati terhadap yang membawa agenda rahasia – hidden agenda – itu. Pada akhirnya, kita harus menunjukkan dengan jelas bahwa kita hanya bertawakkal kepada Allah.

“Ingat, ketika orang-orang kafir merencanakan makar terhadapmu, untuk menangkapmu, membunuhmu atau mengusirmu. Mereka merencanakan tipu daya tapi Allah membalas dengan tipu daya. Dan Allah paling akurat membuat tipu daya.” (Al-Quran surah Al-Anfaal <8>: 30)

Aturan Main pun Berubah

Kini, harus dikatakan bahwa siapa pun musuh Islam, apakah itu Amerika, negara-negara Barat atau ‘Israel’ harus paham bahwa umat Muslim telah terbangun dari tidur yang panjang sehingga kini aturan permainan telah berubah. Umat Muslim bukan lagi mangsa yang mudah diterkam dan dibodohi seperti dulu. Apa pun yang telah mereka alami, kaum Muslimin di Suriah telah mampu bangkit tegak dan berjuang mempertahankan diin dan martabat mereka. (*)

dipetik dan diterjemahkan oleh Sahabat Al-Aqsha dengan izin dari Islam21C