Di Atma Mereka Sudah Merdeka (Versi Lengkap Laporan Tim Sahabat Suriah)

Laporan langsung dari Suriah ini hasil kerja sama antara Majalah Hidayatullah (terbit edisi Oktober 2012) dan Sahabat Suriah, jaringan silaturrahim keluarga Indonesia-Suriah

“Semua jalan di sini aman,” kata Abu Hasan pemuda yang mengantarkan kami. Usianya pertengahan dua puluhan, mengenakan jalabiyah putih, berjenggot lebat, dan menggenggam sebatang AK-47.

“Senjata ini hanya dibawa untuk berjaga-jaga saja. Seluruh kawasan Utara ini sudah dibebaskan dari rezim Assad,” jelasnya.

Saat mulai ngobrol, mobil yang kami tumpangi sedang berhenti di salah satu bundaran di kota Atma. Supirnya memesankan beberapa gulung roti hangat berisi falafil (kacang-kacangan yang digiling bercampur rempah-rempah). Minumnya jus mangga kemasan yang sejuk dari peti es. Di pinggir bundaran itu ada juga yang berjualan syawarma alias roti daging dan jagung rebus.

Menurut Abu Hasan, rakyat Atma dan kawasan utara Suriah termasuk yang pertama kali berhasil melawan rezim Presiden Basyar Al-Assad. Seluruh pasukan intelijen dan militer rezim itu berhasil diusir dari kawasan yang kaya akan hasil pertanian itu.

Azan Isya belum berkumandang ketika kami menyusuri jalan-jalan di Atma. Keadaannya nampak seperti malam-malam musim panas yang normal di Suriah. Para pria berpakaian santai duduk-duduk di depan rumah sambil minum teh atau kopi. Beberapa perempuan dan anaknya, dikawal satu dua lelaki keluarganya, berjalan menuju rumah kerabat. Anak-anak berlarian sambil berteriak dan tertawa.

Tanda yang paling menunjukkan, bahwa kota ini masih dalam keadaan waspada, ialah di berbagai tempat masih terlihat para pria memanggul senjata. Ditambah lagi bendera revolusi Suriah berwarna hijau-putih-hitam-berbintang tiga warna hijau dicatkan dengan rapi di tembok-tembok rumah, rumah sakit, dan sekolah.

Bendera itu adalah bendera Suriah sebelum dikuasai rezim partai Sosialis Baats, yang kemudian mengganti warna hijau menjadi merah tahun 1963.

Atma termasuk dalam wilayah propinsi Idlib, propinsi paling Utara Suriah yang berbatasan dengan Turki. Perbatasan ini tempat lalu-lintas keluar masuk para pengungsi maupun pejuang rakyat melawan rezim Al-Assad.

Listrik bersinar normal di Atma. Tidak seperti kota Dara’a (Suriah Selatan) yang di masa awal revolusi tahun lalu diputus dari listrik dan air selama berminggu-minggu oleh rezim Al-Assad. Abu Hasan menjelaskan, “Para manajer dan pegawai instansi penyedia listrik semua kompak berpihak kepada rakyat, dan melawan rezim Al-Assad.”

Menurut Abu Hasan, sejak revolusi berkobar di kawasan utara Suriah ini, para pegawai pemerintah memilih tiga pilihan: dibunuh, melarikan diri, atau menyerah lalu bergabung mendukung perjuangan rakyat.

“Kalau mereka menyerah dan bergabung, selesai masalah,” kata Abu Hasan.

Abu Hasan menjelaskan, di kawasan Utara ini sebagian besar pejuang adalah mereka yang ingin menegakkan Islam sesudah revolusi menang nanti. Terutama mereka yang tergabung dalam brigade-brigade Mujahidin.

Mereka semua disebut Jaisyul Hurr alias Tentara Kemerdekaan Suriah alias Free Syrian Army. “Sejak dibebaskan setahun lebih yang lalu, tentara rezim berkali-kali mencoba menghancurkan kami, Alhamdulillah, selalu gagal,” tukas Abu Hasan.

Di pinggir kota Atma ratusan meter pohon kelihatan gosong. Pepohonan itu berjejer rapi di sepanjang pinggiran sebuah jalan propinsi beraspal mulus. Menurut Abu Hasan, gosong di pohon-pohon itu akibat pemboman besar-besaran sebulan sebelumnya, ketika tentara rezim Al-Assad mencoba mengambil alih kembali kawasan itu. Gagal.*** (Sahabat Suriah)

Infaq Terbaik Anda

Bank Syariah Mandiri
No. Rek 7799 880 002

BNI Syariah
No. Rek 7799 880 007

an. Sahabat Al Aqsha Yayasan

Konfirmasi SMS/WhatsApp: +62 877 00998 002
Konfirmasi E-mail: konfirmasi@sahabatalaqsha.com