Penjara Besar dan Kejam Bernama Ghouta, Suriah

YOGYAKARTA, Rabu (Sahabatsuriah.com): Berapa banyak penduduk dunia yang sadar dan tahu bahwa di Suriah ada sebuah ‘penjara besar’ bernama Ghouta? Dalam ‘penjara besar’ itu, penduduk kawasan pinggiran Damascus dikepung dan dibantai rezim Bashar al-Assad dengan pesawat-pesawat perangnya, dengan helikopter-helikopter yang jatuhkan bom-bom gentong, dengan rudal-rudal dan peluru-peluru para ‘sniper’ dan dengan blokade kejam yang mematikan.

Berapa banyak penduduk dunia yang sadar dan tahu bahwa di Suriah ada sebuah ‘penjara besar’ bernama Ghouta? Foto: The Syrian Revolution Multimedia Team
Berapa banyak penduduk dunia yang sadar dan tahu
bahwa di Suriah ada sebuah ‘penjara besar’ bernama Ghouta?
Foto: The Syrian Revolution Multimedia Team

Tragedi di Ghouta berawal dari Revolusi Suriah, Maret 2011. Rakyat Suriah pada awalnya berunjuk rasa dengan damai menuntut turunnya Bashar al-Assad dari kekuasaan. Gerakan rakyat ini dijawab dengan penembakan, pembunuhan, penangkapan, dan penyiksaan bagi siapapun yang dianggap melawan pemerintahan rezim Assad.

Assad mengamuk dan mulai bunuhi rakyatnya sendiri. Semakin banyak yang berunjuk rasa, semakin banyak yang ditangkap, disiksa, dan dibunuhi. Lama kelamaan, rakyat merasa perlu mempersenjatai diri melawan para aparat. Dimulailah siklus kekerasan yang skalanya meraksasa tak tertahankan hingga hari ini.

Sejumlah kawasan di Suriah yang berhasil dibebaskan para pejuang dari cengkeraman rezim Assad, dikepung, diblokade dan menjadi sasaran bombardir mesin-mesin perang Assad. Ghouta termasuk salah satu dari daerah tersebut.

Skema Blokade Assad di Ghouta. Semua titik keluar di kepung oleh pasukan rezim Assad. Foto: Douma Revolution
Skema Blokade Assad di Ghouta. Semua titik keluar dikepung oleh pasukan rezim Assad.
Foto: Douma Revolution

Akibatnya, sulit sekali bagi penduduk di Ghouta untuk mendapatkan dan memenuhi kebutuhan pokok, baik itu air bersih, makanan, obat-obatan, maupun bahan bakar. Bahkan, udara sehat yang terhirup pun dikontaminasi dengan berbagai macam gas beracun oleh Assad.

The Syrian Revolution Coordinators Union (SYRCU) mencatat, sejak Assad memulai blokade Ghouta, 1 Nopember 2012 s.d. 30 Nopember 2014, jumlah korban tewas mencapai 11.844 orang, termasuk di dalamnya 1.409 anak, 802 wanita, 52 wartawan, 45 orang Palestina, 27 paramedis, dan 3 dokter. Lebih lanjut, SYRCU mencatat jumlah kematian akibat kelaparan dan kekurangan obat-obatan mencapai 216 orang, termasuk di dalamnya 150 anak.

Statistik korban tewas di Ghouta akibat blokade Assad. Foto: The Syrian Revolution Multimedia Team
Statistik korban tewas di Ghouta akibat blokade Assad.
Infografis: The Syrian Revolution Multimedia Team

Tragedi Demi Tragedi

Aous Al-Mubarak, seorang relawan kemanusiaan Suriah, menuturkan kepada situs Al-Jumhuriya (www.aljumhuriya.net), yang kemudian diterjemahkan oleh Hania Mourtada, penderitaan yang dialami oleh saudara-saudara kita di Ghouta. Berikut kutipan sebagian penjelasan Aous Al-Mubarak:

Setelah hilang di pasaran beberapa lama akibat blokade tentara rezim Assad di Ghouta, sejumlah makanan pokok seperti nasi, gula, bulgur, kacang-kacangan, minyak, dan pasta akhirnya dapat ditemukan di toko-toko. Hanya saja, harganya selangit dan tak terjangkau warga. Harga 1 kg gula naik 25 kali lipat, harga roti naik hingga 150 kali lipat. Banyak warga tak lagi mampu membeli gula, roti atau nasi, dan hanya mampu membeli bulgur, kacang-kacangan dan minyak. Mereka mengganti gula dengan berbagai pemanis buatan seperti sukareen atau sirup fruktosa yang diklaim dokter sebagai, “turunan asam acetoacetic yang dapat menyebabkan masalah psikologis dan tumor ganas.”

Karena harga bensin sangat mahal, banyak orang harus berjalan kaki jauh sekali untuk mendapatkan makanan. Beberapa dari mereka bahkan rela berjalan kaki berjam-jam ke suatu daerah, karena mereka mendengar harga 1 kilogram bulgur di daerah itu lebih murah dari daerah tempat mereka tinggal. Ada juga yang harus berjalan kaki berjam-jam untuk mendapatkan susu untuk anak-anak mereka.

Situasinya begitu parah, sampai-sampai pada malam hari, di cuaca yang sangat dingin mencapai nol derajat, masih banyak orang-orang berjalan ke sana kemari untuk mencari daun lobak, bayam, atau daun hibiscus untuk dimasak. Beberapa orang bahkan begitu putus asa sampai-sampai mereka memakan pakan hewan ternak.

Situasi bertambah parah saat mereka mulai menjual kurma-kurma kualitas rendah yang tadinya berfungsi sebagai makanan ternak. Walaupun rasanya tidak enak, tapi orang-orang tetap membeli dan memakannya. Kurma jenis ini tidaklah beracun, tetapi lalu ditemukan banyak yang keracunan dan meninggal. Pada akhirnya memang diketahui penyebab keracunan tersebut, yaitu kebocoran limbah di gudang tempat kurma-kurma itu disimpan. Kurma-kurma yang telah terkontaminasi itu tetap diperdagangkan. Akhirnya, pedagang-pedagang kurma tersebut dipenjarakan.

Penyebab kematian lain yang sering terjadi di Ghouta, selain keracunan, adalah karena kelaparan, kurangnya obat-obatan dan perawatan kesehatan, serta kematian akibat memakan pakan hewan ternak.

Ammar Majid dan Nur Ali, anak-anak kita yang syahid dalam keadaan kelaparan akibat Blokade Assad di Ghouta, 8-12-2014. Foto: Civil Defence Douma
Ammar Majid dan Nur Ali, anak-anak kita yang syahid dalam keadaan kelaparan
akibat blokade Assad di Ghouta.
Foto: Civil Defence Douma

Anak-anak pingsan di tengah perjalanan ke sekolah, orang-orang lanjut usia tak lagi berhasil mendapatkan obat-obatan yang mereka butuhkan, banyak dari mereka akhirnya meninggal. Para petani bersedih karena hewan-hewan ternak mereka mati perlahan-lahan di depan mata karena tak ada makanan untuk diberikan. Para petani pun akhirnya membajak tanah dengan tangan mereka sendiri. Akibatnya, jumlah tanaman yang dipanen berkurang.

Tidur dan Mati Kelaparan

Kebanyakan orang akan tidur dalam keadaan kelaparan. Mereka makan hanya satu kali sehari, atau bahkan setengahnya. Berat badan mereka berkurang puluhan kilogram. Saat anak-anak mereka menangis kelaparan, orangtua mereka akan menyuruh mereka untuk tidur dan meyakinkan mereka bahwa besok pagi mereka dapat menemukan makanan, persis seperti kisah-kisah tentang masa-masa paceklik dan kelaparan.

Penderitaan yang harus dialami anak-anak dan wanita adalah yang paling parah. Anak-anak yang mampu mendapatkan sebuah kue atau sepotong coklat sekali dalam seminggu, tergolong anak-anak yang beruntung.

Anak-anak pun harus bekerja. Banyak keluarga terlalu miskin untuk membayar jasa antar air ke rumah, sehingga mereka menugaskan anak-anak mereka untuk mengambil air di sumur, mengisinya di beberapa ember dan membawanya pulang.

Para orang dewasa dalam keluarga-keluarga itu mendapatkan tugas yang lebih berat. Para wanita harus mencuci baju dan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga dengan menggunakan tangan tanpa bantuan alat apapun karena tak ada listrik. Mereka masak dengan menggunakan kayu bakar.

Para wanita berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk mendapatkan paket makanan dari berbagai badan amal. Banyak sekali ditemukan seorang wanita menangis-nangis di kantor-kantor badan amal dan klinik, untuk mendapatkan susu atau pengobatan bagi anak-anak mereka.

Wisam Asy-Syaikh, satu dari ratusan anak kita yang syahid dalam keadaan kelaparan akibat blokade Assad di Ghouta. Foto: Civil Defence Douma
Wisam Asy-Syaikh, satu dari ratusan anak kita yang syahid dalam keadaan kelaparan akibat blokade Assad di Ghouta. Foto: Civil Defence Douma

Banyak orangtua berhenti menyekolahkan anak mereka karena tak mampu membiayainya. Banyak juga guru-guru – yang tetap mengajar tanpa menerima gaji – menuturkan bahwa siswa mereka tak mampu berkonsentrasi belajar karena perut yang kosong dan kelaparan.

Yang menarik untuk diperhatikan adalah rokok, walaupun harganya juga naik 2 kali lipat, diperbolehkan melenggang masuk dari Damascus melewati berbagai titik perbatasan di Ghouta. Para ulama yang kesal dengan hal ini mengingatkan para perokok di berbagai khutbah Jum’at bahwa mereka sedang melakukan apa yang diinginkan rezim Assad dengan membuang-buang uang untuk perbuatan yang berdosa dan berbahaya bagi kesehatan.

Terkadang tentara rezim di titik-titik checkpoints memperbolehkan masuknya beberapa barang dagangan (tentu saja dengan harga yang sangat tinggi), tetapi, kualitas dari barang dagangan tersebut sudah tak bagus atau bisa juga dikatakan: mereka membuang apa-apa yang tak laku di Damascus ke dalam Ghouta. Ghouta diperlakukan layaknya tempat sampah!

Banyak sekali rumah, toko, pabrik dan peternakan yang ditinggal pemiliknya. Orang-orang akan masuk ke dalam rumah-rumah yang ditinggalkan pemiliknya dan mengambil apa saja yang tersisa di situ untuk dimakan.

Di Ghouta, sulit sekali mendapatkan uang. Tetapi yang lebih sulit lagi untuk disaksikan adalah melihat orang-orang baik mulai mencuri makanan karena situasi yang begitu parah. Mereka yang tak mau mencuri makanan akan menutupi muka mereka di malam hari dan pergi keluar rumah untuk mengais-ngais tempat sampah, mencari makan.* (UI/Sahabat Suriah)