Gawat, Voucher Makanan untuk Ribuan Pengungsi Suriah di Lebanon Dihentikan

Seorang bocah pengungsi Suriah di salah satu kamp di Arsal, Lebanon Timur. foto: Ara News

LEBANON, Senin (World Bulletin): Pengungsi Suriah di Lebanon sedang menghadapi kelaparan setelah pemotongan jatah Program Pangan Dunia PBB (World Food Program) dengan menggunakan voucher makan.

Biasanya, ribuan pengungsi Suriah di Lebanon bisa menggunakan voucher untuk beli makanan di toko setempat. Tanpa voucher, akan ada banyak keluarga kelaparan. Di sisi lain pengungsi juga harus menghadapi musim dingin yang mencekam. Akibat dari penghentian pelaksanaan program itu akan terjadi kekacauan.

“Saya lebih memilih mati, kami hidup seperti bukan manusia,” kata seorang wanita tua yang mengungsi dari Al-Qusair, kota Homs setahun lalu.

“Kami lari dari bom, roket dan darah di Suriah, tapi malah di sini kami dibiarkan mati perlahan karena lapar dan dingin,” tambahnya.

Wanita tua tersebut tinggal di sebuah pemukiman pengungsi di Arsal, timur Lebanon bersama 8 anaknya. Arsal merupakan tempat bagi 50 ribu pengungsi Suriah lainnya yang mencoba bertahan di tengah kondisi yang memprihatinkan.

Banyak anak yang tidak memakai alas kaki dan pakaian yang layak. Banyak tenda yang berlumuran lumpur dan jorok menjadikan tempat tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan.

Abu Hassan Hamwi dan keluarganya dari Hama sudah tidak menerima voucher dari PBB sejak 9 bulan lalu.

Umm Mohammad Bakhit, seorang janda dari Al-Qusair mengatakan, “Pemotongan bantuan sangat berdampak bagi kami, tak ada seorang pun membantu kami.”

Hassan Rayed, Manajer Eksekutif Perhimpunan Bantuan Kemanusiaan di Arsal, mengatakan, ada keprihatinan serius tentang kebijakan penghentian program voucher makanan ini dan pengaruhnya bagi pengungsi dan upaya bantuan yang lain.

Rayed mengatakan, ada lebih dari 60.000 pengungsi yang tinggal di Arsal. Ia mengaku organisasinya sudah membantu sekitar 1500 pengungsi.

Bingkisan paket makanan dari PBB hanya mampu memenuhi kebutuhan dua atau tiga orang saja dalam satu keluarga. Penghentian pembagian voucher makanan akan menyebabkan bencana di Arsal, ditambah musim dingin mulai datang, dan kurangnya minyak dan pemanas.

Rayed telah menghimbau agar pemerintah Lebanon juga turut membantu. Dia juga memperingatkan pemerintah tentang penyebaran penyakit antara pengungsi Suriah dan penduduk Lebanon yang tinggal di wilayah tersebut.

Direktur WFP Ertharin Cousin juga telah mengajukan keberatan, “Pemotongan program voucher makanan ini akan berdampak pada kesehatan dan keamanan pengungsi karena sangat berpotensi meningkatkan ketegangan dan mengancam negara tetangga, penghentian WFP (World Food Programe) ini akan menjadi bencana bagi warga yang sudah menderita.”

Cousin juga memperingatkan, program bantuan bagi pengungsi Suriah sekarang sedang gawat dan sangat perlu mendapatkan bantuan US$64 juta untuk memberi makan para pengungsi Suriah sampai akhir Desember 2014 ini saja.* (World Bulletin | Sahabat Suriah | Sahabat Al-Aqsha)