Ayat al-Qassab: Muda, Cantik, Pengantin Baru dan Hamil. Kini Syahidah Dibunuh Basyar al-Assad

JAKARTA, Rabu (Sahabatsuriah.com): Menurut hitungan para relawan kemanusiaan, rezim brutal Basyar al-Assad telah membunuh sedikitnya 52 ribu rakyat Suriah selama 21 bulan revolusi ini. Angka yang luar biasa dan tidak masuk akal sehat, tetapi sering kali orang tak perduli karena terasa seakan semuanya adalah statistik belaka.

Namun di balik angka-angka itu ada kisah manusia yang sama seperti kita semua. Kisah berikut ini diterbitkan CNN  tentang salah satu dari 52 syuhada Suriah: Ayat al-Qassab.

Untuk ke tiga kalinya, Mahmud al-Qassab menurunkan satu lagi mayat anaknya ke dalam liang lahat. Dia melangkah mundur sementara para jiran dan kerabat menyiramkan tanah ke kuburan putriya yang masih remaja.

Mahmud tidak menangis atau meratap.

Alhamdulillah, aku bersyukur karena inilah syuhadaku yang ke tiga: Ahmad, Abdullah, dan sekarang anakku perempuan. Alhamdulillah, dan aku tidak akan memprotes Allah akan nasib yang ditetapkannya atas kami ini,” demikian kata Mahmud kepada seorang relawan yang merekam upacara kecil pemakaman itu.

Baru beberapa bulan yang lalu, Ayat al-Qassab yang berusia 18 tahun itu menyanyi dan menari bersama ibu dan bibi-bibinya saat mereka memakaikan kepadanya gaun pengantinnya. Kini tubuhnya yang hancur dan bermandi darah terbaring di dalam liang lahat di bawah bangunan-bangunan rusak bekas peluru di kota Homs, Suriah.

“Istriku mati dibunuh. Dia pergi membawa pergi hatiku, jiwaku, pikiranku dan semua yang ada dalam diriku, tapi kami tidak akan menyerah! Kami tidak akan mundur. Kami akan terus maju,” demikian suami Ayat, Muhammad Jumbaz, dengan suara lirih.

Ayat bukanlah seorang aktivis yang memimpin peperangan atau negosiasi diplomatik. Dia sama dengan banyak warga Suriah lainnya – masih mudah, penuh harapan hidup, namun kini menjadi mayat.

“Tidak ada anak perempuan sebaik anakku. Dia cerdas dan cantik dan periang. Kemudian semua penyerangan ini terjadi dan inilah nasib anakku,” kata Aisha al-Qassab, ibunda Ayat, dengan air mata bercucuran di pipinya.

Baru saja beberapa waktu yang lalu Ayat dan Muhammad mengetahui bahwa Ayat hamil. Keluarga muda itu bahagia sekali, bahkan bila UNICEF sekali pun memperkirakan bahwa ada 2.5 juta warga Suriah, termasuk anak-anak, yang terkena dampak kekerasan dan ketidakstabilan di Suriah.

“Cintaku, baru menikah beberapa bulan, kemudian hamil dan sekarang sudah menjadi syahidah,” ujar ibunda Ayat.

Sebuah roket 120 mm melesat dan menembus masuk rumah mereka, mengenai kepala Ayat dan langsung menewaskannya dan bayinya sekaligus. Ayah Ayat, yang sedang berdiri tidak jauh dari situ, juga terkena di pundaknya dan cedera.

“Seminggu sebelum dia syahid, tangannya luka dalam sebuah serangan roket, dan aku lalu merasa bahwa mungkin inilah isyarat dari Allah. Seolah-olah Allah memberi kami seminggu lagi untuk berada bersamanya sebelum kemudian berpisah dengannya,” kata Muhammad.

Menikah Sebagai Perlawanan

Ketika pernikahan dilaksanakan, sejumlah media memberitakan betapa bagi Ayat dan Muhammad, pernikahan mereka adalah cara mereka menyatakan perlawanan terhadap rezim brutal Basyar al-Assad yang melakukan pembantaian besar-besaran terhadap rakyat Suriah hampir tanpa henti. Pernikahan adalah lambang perlawanan mereka terhadap rezim brutal Basyar al-Assad.

Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka akan tetap bertahan hidup dan berharap hidup dengan menikah. Ayat menuturkan, beberapa saat sesudah menikah, “Saya mengenakan gaun putih, tapi kami tidak melaksanakan pernikahan yang seperti biasa karena binatang yang memegang kekuasaan ini. Kami berharap bahwa begitu rezim ini jatuh maka kami bisa mengadakan pesta, karena bagi kami, kebahagiaan kami adalah bila rezim ini berakhir.”

Menurut Aisha, meskipun mereka menikah hanya seminggu sesudah saling bertemu, Ayat dan Muhammad saling mencintai.

“Dia masih sangat muda, dan aku bahkan belum merencanakan menikahkan dia, tetapi pengepungan (oleh rezim) mengantarkan ketetapan Allah. Ada seorang pemuda yang baik dan pekerja keras yang suka kepadanya, dan dia melihat pemuda itu, dan pemuda itu melihat dia, lalu mereka saling jatuh cinta dan menikah.”

Muhammad, yang ikut bergabung dengan para pejuang pembebasan Suriah, revolusi ini adalah tameng hidupnya saat ini, tapi dia juga yakin bahwa tetap bertahan hidup dan mencintai seorang istri adalah bentuk perlawanan terbesar.

“Dia perempuan luar biasa. Kami ini pengantin baru dan kami sangat bahagia. Bahkan kalau kadang-kadang dia membuatku jengkel, saya tidak bisa marah kepadanya. Kelembutan hatinya merebut hatiku dan aku berdoa agar Allah bukakan pintu surga bagi istriku,” ujar Muhammad, sedikit tersenyum saat mengenang istrinya.

Muhammad bukanlah orang yang terbiasa dengan peperangan. Kesenangan utamanya adalah membuat manisan, halawiyat. Itulah yang sering dia lakukan, membuat manisan dan membagi-bagikannya kepada para pejuang di Homs, kepada kerabat dan anak-anak.

“Saat saya memberikan halawiyat untuk sebuah keluarga, rasanya sama berharganya dengan kalau saya memberi mereka harta karun,” demikian Muhammad, tertawa saat mengenang betapa luar biasanya pengaruh sepotong kue manis di sebuah kota yang hancur lebur karena peperangan.

Ayat ikut menikmati kesenangan Muhammad mengantarkan kue dan manisan yang dikucuri sirup kepada kerabat dan teman, meskipun gas, tepung, gula dan susu hampir tidak lagi tersedia di kota itu.

“Dia senang halawiyat, dan dia senang memperhatikan saya membuatnya. Kami sempat membuat kue kurma bersama-sama, tapi dia syahid sebelum sempat memakannya, karena itu kami bagi-bagikan saja kue kurmanya.”

Masa Kecil yang Terenggut

Ayat adalah anak ke tiga dari lima bersaudara. Lahir dan dibesarkan di Kota Tua Homs, kota terbesar ke tiga Suriah. Ayahnya seorang pekerja biasa dan ibunya ratu rumahtangga yang mendidik anak-anaknya tentang arti kerja keras dan keluarga.

Ayat selalu manja kepada kedua abangnya, sementara dua adiknya bermanja kepadanya.

“Dia senang belajar dan selalu saja belajar. Ketika pengepungan oleh tentara Basyar terjadi, tidak ada lagi sekolah yang dibuka,” ujar Aisha.

Lebih dari 2000 bangunan sekolah rusak atau hancur selama 21 bulan kekerasan, sementara 600 bangunan sekolah lainnya kini berfungsi sebagai tempat penampungan pengungsi dalam negeri.

Keluarga Ayat berharap bahwa gadis mereka akan terus sekolah dan kemudian menjadi seorang berilmu, meraih gelar doktor, namun Allah berkehendak lain. Revolusi mengubah Suriah dan menjadikan Homs sebagai ibu kota perjuangan dan perlawanan terhadap rezim Basyar al-Assad.

“Ini anak yang tumbuh besar mencintai Allah dan ketika demonstrasi-demonstrasi mulai berlangsung, dia pun mencintai gerakan perlawanan ini dan bangga bahwa kedua abangnya ikut berperang dan syahid demi kemerdekaan,” kata Mahmud.

Ketika pengepungan oleh tentara-tentara Basyar al-Assad atas kota Homs memuncak, Muhammad dan Ayat menikah. “Aku bersyukur akan kehidupanku. Di sini, hidup kami lebih baik daripada berbulan madu di luar negeri kami. Kami tidak seperti orang-orang yang melarikan diri. Di sini kami masih punya izzah dan kami sedang berjuang mempertahankan negeri kami. Aku lebih suka berbulan-madu di tengah-tengah bom dan mortir daripada meninggalkan bangsaku,” kata Ayat beberapa saat sesudah pernikahannya.

Namun dengan semakin dinginnya cuaca musim dingin dan semakin kejamnya pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan rezim Basyar al-Assad, Ayat mulai mengkhawatirkan diri dan janin dalam rahimnya.

“Dia mulai ketakutan setiap kali mendengar suara pesawat di atas kepala kami,” cerita Muhammad. “Tapi dia tidak pernah sekali pun meminta mengungsi dan meninggalkan Homs. Malah sebaliknya, dia bangga karena terus bertahan di Homs. Dan aku bersyukur kepada Allah karena sekarang dia menjadi seorang syahidah.”

“Allah memberi orangtua Ayat kekuatan untuk menanggung pedihnya kematian dua orang abangnya dan Allah karuniakan kepadaku kekuatan untuk menanggung kepedihan karena kematian saudaraku sendiri. Insya’Allah, Allah akan juga memberi kami kekuatan untuk menerima kematian Ayat,” ujar Muhammad.

“Semoga Allah memberi kami pula mati syahid di jalanNya,” demikian Aisha. (IA/Sahabat Suriah)

ayat qassab