Menjenguk Saudara-saudara Kita di Suriah (Versi Lengkap Laporan Tim Sahabat Suriah)

Muhammad. Foto: Sahabat Suriah

Laporan langsung dari Suriah ini hasil kerja sama antara Majalah Hidayatullah (terbit edisi Oktober 2012) dan Sahabat Suriah, jaringan silaturrahim keluarga Indonesia-Suriah

Orang-orang yang merawatnya memberi nama pria ini “Muhammad”. Usianya akhir dua puluhan. Nama baru itu diberikan karena dia sudah tak ingat lagi siapa namanya. Siapa nama keluarganya. Dari mana ia berasal. Berapa persisnya usianya. Apa yang terjadi atas dirinya. Kapan dia tiba di posko IHH (organisasi bantuan kemanusiaan swasta terbesar di Turki) yang berlokasi di jantung kota Antakya, sekitar 60 kilometer dari perbatasan Turki-Suriah ini. Muhammad hampir tak mengingat apapun tetang dirinya.

Tiga bulan sebelumnya, pria ini dibawah dari perbatasan dalam keadaan luka parah kepalanya. Bola mata kirinya hancur tak terselamatkan. Kening di atas bola matanya bolong besar dihajar peluru. Dengan izin Allah, dokter-dokter Turki dan Suriah membantu kelanjutan usianya.

Namun separuh tubuhnya lumpuh. Mata kirinya bolong tanpa bola, dan keningnya yang sebelah kiri meninggalkan lubang menjorok agak dalam, seperti lubang hajarul aswad.

Saat masuk ke ruangan tempat kami duduk, Muhammad berjalan pelan sambil menyeret lengan dan kaki kanannya. Bicaranya agak cadel tapi masih bisa difahami, seperti orang yang kena stroke. Apapun yang kami tanya tentang dirinya dijawab, “Aku tak bisa, aku tak ingat apa-apa…” seraya memberi isyarat telapak tangan ke dekat lehernya.

Namun hebatnya, saat kami tanya apakah dia masih ingat surah Al-Fatihah, dia mengangguk pelan. Kami minta dia membacakan surat pembuka Al-Quran itu. Subhanallaahil ‘azhiim… Pria yang sudah kehilangan hampir seluruh memorinya karena cedera, Allah sisakan ingatan di dalam otaknya ayat-ayat Al-Quran… Dan Muhammad pun melantunkan Al-Fatihah dengan susah payah, pelan, terbata-bata, tapi selesai dengan sempurna.

Muhammad adalah salah satu dari ribuan korban gelombang kekerasan yang melanda  Suriah sejak awal tahun 2011. Rakyat Suriah semakin banyak yang berunjuk rasa, menuntut keadilan. Sedangkan penguasanya ngotot mempertahankan kekuasaan tiranik yang sudah bersinggasana selama lebih dari 40 tahun. Hasilnya gelombang kekerasan yang balas-membalas.

Salah seorang petugas kemanusiaan IHH di Antakya, yang juga bernama Muhammad, menjelaskan jumlah pengungsi di perbatasan Turki saat ini mencapai lebih dari 80 ribu orang. “Kami (IHH) menangani sekitar separuh dari seluruh keperluan para pengungsi itu sehari-hari,” jelas pria cekatan dan murah senyum ini.

Menurut informasi yang terus diperbarui oleh UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees atau Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi), jumlah seluruh rakyat Suriah yang mengungsi ke luar dari negerinya kini 213.530 jiwa (dalam 43.895 keluarga). Sebagian besar hijrah ke Turki 83.260 jiwa, sisanya ke Lebanon, Yordania, dan Iraq.

Saat kami tiba di Reyhanli, salah satu kota kecil di dekat perbatasan Turki-Syria, kami dibawa ke sebuah kamp pengungsi yang sudah kosong. Yang tersisa hanya ratusan pelataran kemah dari conblocks yang berbaris rapi. Bekas kamp pengungsi itu terletak di sebuah lembah yang indah, dikelilingi perbukitan yang mulai berwarna oranye disapu sinar matahari petang musim panas.

Angin menggoyang-goyang dua buah tenda besar berwarna putih bertuliskan Türk Kızılayı 1868 (Bulan Sabit Merah Turki yang berdiri sejak 1868). Di tenda-tenda itu sudah tak ada apa-apa selain beberapa buah kursi yang diletakkan asal-asalan. Menurut seorang relawan yang menemani kami, para pengungsi di kamp itu sudah dipindahkan ke lokasi lain yang lebih baik.

Beberapa bangunan semi-permanen di tempat itu kini dipakai oleh Jandarma, polisi militer Turki. Mereka bertanggung jawab menjaga keamanan arus keluar masuk pengungsi di beberapa titik perbatasan yang sudah ditinggalkan oleh tentara Suriah.

Sesudah mendaftarkan nama-nama, bersama puluhan pengungsi kami diangkut dengan sebuah bis kecil. Tadinya bis itu melaju kencang di jalan-jalan raya beraspal mulus yang lengang. Tiba-tiba bis itu berbelok ke sebuah jalan yang lebih kecil yang di kiri kanannya perkebunan.

Semakin jauh kami berjalan, senja semakin remang-remang, semakin jarang pula bis itu berpapasan dengan orang di jalan. Akhirnya bis berhenti di sebuah pos militer yang dijaga beberapa orang prajurit Turki bersenjata semi-otomatis berpakaian loreng tempur. Supirnya yang nampak santai menyerahkan daftar nama orang yang ada di bis.

Beberapa menit kemudian sebuah bis lain berukuran sama tiba di belakang kami. Lalu kedua kendaraan itu bergerak pelan melewati barikade kawat berduri yang dipasang zig-zag, kemudian begerak menuruni bukit sekitar 200 meter. Ujung-ujung barikade itu terhubung dengan pagar perbatasan dari kawat berduri yang membentang jauh ke Barat dan ke Timur sampai ujungnya berakhir entah di mana.

Barikade itu membagi sebuah tanah lapang berumput menjadi dua. Tanah lapang itu luasnya kira-kira separuh lapangan sepakbola. Di sisi Turki terdapat mobil ambulan dan truk tentara. Di sisi satunya lagi sudah masuk kawasan Suriah di mana puluhan orang berkumpul entah sedang menunggu apa. Beberapa mobil juga nampak diparkir.

Serombongan pengungsi Suriah di dekat perbataasan dengan Turki di Hatay. foto: Telegraph

Kami disuruh turun dan langsung digiring berjalan melewati celah diantara barikade tadi. Daftar nama kami dibawa oleh seorang pemuda Suriah yang sempat bertegur sapa dengan para tentara Turki berjaga-jaga dengan santai, namun waspada. Rombongan kecil kami segera dibawa masuk ke dalam dua buah sedan yang sudah menunggu.

Seorang pria separuh baya mendekati kami, “Ahlan wa sahlan… kalian dari mana?” Kami hanya menjawab dengan senyum.

Tak bisa dipungkiri bahwa suasana santai itu separuhnya bernuansa ketegangan. Kami memang diminta untuk tidak terlalu mudah ngobrol dengan siapapun, sampai diberi penjelasan bahwa keadaan benar-benar aman.

Sesudah sekitar seperempat jam menunggu, kami diminta keluar dari sedan, dan diajak berjalan menuruni bukit itu lebih jauh. Hari sudah benar-benar gelap sama sekali.

Sebuah pemandangan luar biasa terbentang di hadapan kami. Ratusan mungkin ribuan orang berkeliaran di sela-sela perkebunan zaitun yang sudah mulai dilingkupi gelapnya malam.

Salah seorang pemuda Suriah yang menemani kami menjelaskan, “Mereka ini saudara-saudara kalian, pengungsi Suriah yang sudah dua minggu terlunta-lunta di sini. Jumlahnya sekitar dua ribu orang. Sebagian besar perempuan dan anak-anak. Mereka menunggu izin masuk ke Turki…”

Kami bertanya, “Sampai kapan mereka harus menunggu?”

Pemuda kurus berjenggot lebat itu mengangkat bahu, “Hanya Allah yang tahu.”

Belasan orang anak berpakaian lusuh, dengan rambut yang kering dan gimbal mendekati kami. Mereka tertawa-tawa dan berebutan minta difoto. Setiap kali diperlihatkan layar kamera yang merekam wajah-wajahnya, tawa mereka semakin keras berderai, lalu lebih banyak lagi yang rebutan minta difoto.

Perasaan di hati kami campur aduk, antara gembira mendengar tawa mereka, sekaligus terenyuh membayangkan mereka sudah berminggu-minggu meninggalkan kampung dan rumahnya entah di mana di Suriah, menjauh dari teror dan keganasan rezim yang sedang memburu para pemuda Mujahidin.

Di sela-sela pepohonan zaitun nampak tenda-tenda darurat didirikan ala kadarnya. Dari bentuk dan warnanya yang berbagai macam, hampir bisa dipastikan tenda-tenda itu bukan yang disediakan oleh organisasi-organisasi kemanusiaan. Dengan kata lain, mereka ini pengungsi yang masih terlantar.

Puluhan orang nampak mengantre air minum dari sebuah mobil tanki. Ada yang membawa galon, termos, ember, atau botol air mineral kosong.

Debu tebal musim panas beterbangan setiap kali kendaraan melalui tempat itu. Kami terus berjalan sampai berjumpa dengan dua orang relawan IHH yang sedang dikerumuni anak-anak lain. Sepertinya anak-anak itu sudah mengenal akrab keduanya.

Salah seorang relawan IHH itu menjelaskan, jumlah warga Suriah yang masuk melewati titik perbatasan itu terus bertambah dari waktu ke waktu. Organisasinya berusaha mengantarkan air, bahan makanan, dan pakaian setiap hari kepada mereka. “Tetapi pelayanan yang lebih baik baru bisa kami lakukan jika mereka sudah masuk ke wilayah Turki,” jelasnya.

Seorang manajer sebuah organisasi kemanusiaan Qatar yang kami jumpai di dekat perbatasan menjelaskan, “Saudara-saudara kita yang sudah berada di negara-negara seperti Turki, Yordania, Lebanon, dan Iraq relatif sudah lebih tertangani karena pemerintah setempat , dan organisasi-organisasi kemanusiaan juga PBB turun tangan.”

Seorang anak Suriah yang cidera akibat saling serang antara pasukan rezim Alawiyah-Nusairiyah dan pasukan rakyat. foto: Alarabiya

Ia melanjutkan, “yang lebih darurat untuk ditolong adalah para pengungsi yang masih ada di dalam Suriah. Jumlahnya lebih dari 2 juta orang. Mereka berpindah dari Homs ke Damaskus. Di Damaskus diteror lagi, pindah lagi ke pinggiran Damaskus. Atau dari Latakia ke Aleppo, diteror lagi pindah ke Utara… Begitu juga yang di kota dan kampung lainnya.”

Pria berbadan tegap berkulit gelap itu melanjutkan, “Di kamp-kamp pengungsi di negara-negara tetangga itu ada tempat yang lebih tenang, aman, meskipun masih seadanya. Pasokan makanan dan minuman pun selalu ada meski tidak sempurna. Sedangkan mereka yang masih di dalam Suriah, tak jelas akan tinggal di mana, karena sanak kerabat yang di kota lainpun sama-sama prihatin.”

Abu Walid, seorang pengusaha Suriah yang mengungsikan keluarganya ke Istanbul menjelaskan, “Rumah saya di pinggir Damaskus sekarang ditempati mengungsi keluarga istri saya dari Homs. Jumlah mereka lebih dari 30 orang.”

Padahal Abu Walid sendiri meninggalkan rumah dan kampungnya itu karena diteror. Dua onggok jenazah pemuda kampung yang nampak habis disiksa oleh kaki tangan rezim Al-Assad, digeletakkan di depan pintu rumahnya.

“Seakan-akan mereka ingin menyampaikan ke saya, pergilah, atau kamu juga akan bernasib seperti ini,” kata Abu Walid yang mengungsi dengan istri dan delapan anaknya.

Kebanyakan pengungsi Suriah yang kami jumpai di Turki menganggap negeri tempatnya hijrah itu cukup baik menerima mereka.

Meskipun begitu, makanan yang cukup dan tempat tinggal yang hangat tak mampu mengusir kecemasan dan kesedihan membayangkan keluarga-keluarga mereka yang masih berada di dalam Suriah yang kian berdarah.

Ummu Thoriq, salah seorang pengungsi, Ibu dari empat orang anak, banyak melamun dengan wajah murung ketika ditemui. “Adik perempuan saya terjebak di Aleppo. Suaminya sudah dua kali ditangkap oleh intelijen Suriah karena dianggap berhubungan dengan para Mujahidin. Penangkapan yang kedua ini lebih berat…”

Aleppo atau Halab adalah kota terbesar kedua sesudah Damaskus. Jaraknya sekitar 310 kilometer di sebelah utara ibukota Damaskus, lebih dekat ke Turki. Sejak sebelum Ramadhan kemarin, Aleppo terbelah dua, sebagian sudah dibebaskan oleh para Mujahidin, sebagian masih dikuasai tentara rezim Al-Assad.

Pemboman lewat tank, jet tempur, dan artileri, penangkapan, serta penyerangan ke rumah-rumah terjadi hampir setiap hari di seluruh Aleppo.

Ummu Thoriq mengaku sudah menasihati suami adiknya untuk membawa keluar keluarganya dari Suriah sesudah ia ditangkap pertama kali. “Katanya mau minta cuti dulu secara resmi,” ungkap Ummu Thoriq, “Ajaib!! Lha bagaimana Anda minta cuti dari pemerintah yang sudah menjebloskan Anda ke penjara tanpa alasan jelas? Segera keluar saja… Hanya kepada Allah kami berserah diri.”

Saat ini suami adiknya itu tak diketahui ditahan di penjara apa dan di mana.

Human Rights Watch melaporkan, penyiksaan dan cara-cara penyekapan yang di luar batas kemanusiaan telah dilakukan di berbagai penjara milik rezim Al-Assad. Sebuah laporan lengkap tentang hal ini telah dilansir, sesudah organisasi tersebut mewawancarai lebih dari 200 orang bekas tahanan.

Waktu sedang merayap mendekati musim dingin kedua sejak revolusi bergejolak di Suriah. Musim dingin yang pasti akan berat.

Salju akan turun di banyak tempat di negeri itu. Hawa dingin belasan derajat celsius di bawah nol akan melinukan tulang-tulang para pengungsi, juga warga yang rumah-rumahnya mengalami pemutusan listrik.

Selain musim dingin yang berat, rakyat Suriah masih harus menghadapi rezim yang semakin keras mempertahankan kekuasaannya dengan berbagai persenjataan. Siap menumpahkan darah dari tubuh rakyat, tak peduli bersenjata atau tidak. Seperti yang sudah hampir dua tahun ini terjadi.

Hasbunallaahu wa ni’mal wakiil.*** (Sahabat Suriah)

INFAQ TERBAIK ANDA

Bank Syariah Mandiri

Bank Syariah Mandiri
No. Rek 7799 880 002

BNI Syariah
No. Rek 7799 880 007

an. Sahabat Al Aqsha Yayasan

Konfirmasi SMS/WhatsApp: +62 877 00998 002
Konfirmasi E-mail: konfirmasi@sahabatalaqsha.com