Pejuang Suriah Buka Front Lawan Assad di Quneitrah, Dekat ‘Israel’

JAKARTA, Kamis (Sahabatsuriah.com): Para mujahidin di Suriah melancarkan ofensif besar-besaran terhadap pasukan rezim Assad di hampir semua front, dan bahkan membuka front baru di Quneitrah di dekat Dataran Tinggi Golan yang dijajah Zionis Israel.

Quneitrah terletak di arah barat daya Damascus, di antara kawasan yang dikuasai para pejuang (termasuk Ghutah Gharbiyyah) dengan Dara’a.

Gerak cepat para mujahidin ini terjadi segera sesudah re-grouping berbagai brigade pejuang menjadi batalion besar yang diberi nama Front Islam (Jabhatul Islamiyyah). Dengan penggabungan ini, sekarang diperkirakan sekitar 45 ribu pejuang ada di kawasan Damascus dan sekitarnya.

Front Islam ini telah mengeluarkan manifesto yang secara tegas menyatakan bahwa tujuan utama mereka membebaskan Suriah adalah demi menegakkan Syariah Islam. Sejumlah ulama, termasuk di kawasan Idlib, langsung menyatakan dukungan mereka terhadap Front Islam.

Sejumlah brigade besar seperti Ahrar al-Syam masuk di dalam group baru ini. Kelompok lainnya yang juga terkenal efektif di lapangan yaitu Jabhah al-Nusrah (JN) dan Daulah al-Islamiyyah fii Iraq was Syam (Islamic State in Iraq and Asy-Syam/ISIS) tidak masuk dalam kelompok baru ini, namun sebagaimana diketahui Jabhah al-Nusrah sudah hampir selalu bekerjasama di lapangan dengan berbagai brigade Free Syrian Army (FSA/Jasyul Hur).

Sementara itu, perkembangan cepat yang terjadi selama seminggu ini adalah berhasil dibebaskannya oleh para mujahidin sedikitnya 13 desa di Aleppo di utara Suriah, dan direbutnya ladang minyak al-Omar di Deir Ezzur. Dengan dikuasainya ladang minyak ini, maka rezim Assad kini tergantung sepenuhnya kepada Iran untuk mensuplai kebutuhan bahan bakarnya.

Pada hari Rabu 27 November kemarin, pertempuran antara Jabhatul Islamiyyah (Front Islam) melawan pasukan rezim terjadi di desa-desa Ajam, Jaba dan Sultana. Para mujahidin dikabarkan menghancurkan sedikitnya 4 tank, 1 kendaraan lapis baja BMP, merebut sebuah pangkalan militer, dalam waktu 48 jam.

Para pejuang berhasil merebut dan menguasai kawasan yang dipenuhi bunker dan parit-parit perlindungan (trench) yang awalnya dibangun untuk mempertahankan diri dari serangan Zionis Israel, namun tidak pernah dipakai. Para pejuang juga berhasil mendapatkan pampasan perang berupa senjata dan amunisi dalam jumlah besar.

Para pejuang juga menyerang konvoi pasukan rezim yang berusaha masuk ke Jaba dan sampai saat ini masih terus terlibat dalam pertempuran di kota Khan Arnabe.

Agak ke timur Damascus, di kawasan Ghutah Syarqiyyah, di mana para mujahidin bertahan terhadap serangan-serangan rezim, dikabarkan bahwa para tentara rezim sudah dalam keadaan terdesak tanpa air dan makanan selama lebih dari 4 hari.

Ini artinya, secara efektif, para pejuang sudah berhasil memaksa rezim untuk menutup jalan raya Damascus – Homs selama 7 hari ini sehingga suplai bahan bakar tidak bisa masuk ke ibu kota. (Sahabat Suriah)