Rezim Assad Terus Siksa dan Bunuh Warga Suriah. NGO Temukan Kuburan Massal

YOGYAKARTA, Rabu (Sahabatsuriah.com): Pemuda tampan ini bernama Nassir Samir al-Alwani. Usianya baru 16 tahun. Dia dilaporkan meninggal pada hari Senin 30 September kemarin, karena siksaan luar biasa di salah satu penjara rezim Bashar al-Assad di mana dia ditahan selama beberapa bulan terakhir.

Nassir

 

 

 

 

 

 

 

Nassir hanya seorang dari puluhan ribu warga Suriah yang ditangkap dengan berbagai alasan oleh pihak intelijen dan militer Assad, dijebloskan ke penjara dan berbagai instalasi militer lalu disiksa untuk mengakui berbagai tuduhan, atau dibunuh. Gambar di bawah ini hanya sedikit dari bukti kekejaman yang dilakukan rezim Assad di Suriah.

sept 30 - hama - syrian hr - eatingmypeaz

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah NGO hak asasi yang bernama Violations and Documentation Center (VDC) melaporkan Senin 30 September kemarin, pasukan rezim Assad menggali sejumlah kuburan massal untuk mengubur sekaligus menghilangkan bekas-bekas ribuan warga Suriah yang mereka bunuh. Dengan menggunakan pencitraan satelit, dilengkapi dengan kesaksian warga sipil, bekas tawanan serta tentara atau perwira yang membelot, VDC mengidentifikasikan dua lokasi yang mereka percaya masih dipakai untuk mengubur ribuan tawanan di kawasan Damascus.

VDC memperkirakan setidaknya ada 1000 jenazah yang dipendam di dua lokasi tersebut.

oct 1- violations doc centre - mass graves in detention of military branch 213 - dmsc

Dikepalai oleh pengacara hak asasi Razan Zaitunah, VDC sudah mendokumentasi penahanan lebih dari 43 ribu warga selama 31 bulan sejak pecahnya revolusi pada Maret 2011 itu.  Dari semua nama itu, diketahui 3.337 orang tawanan dibunuh.

Jurubicara VDC Bassam al-Ahmad menyatakan, masih ada sekitar 1700 warga Suriah yang hilang, tidak diketahui apakah mereka ditawan atau sudah mati. Kemungkinan ada di antara mereka yang tewas dan dikubur di dua lokasi di Damascus itu.

Biasanya keluarga para tawanan hanya tahu bahwa tentang kematian yang bersangkutan saat diperintahkan datang untuk mengambil jenazah-jenazah mereka. Namun cukup banyak juga warga Suriah yang mengetahui kabar kematian orang yang mereka cintai dalam tahanan itu dari kesaksian para tawanan lainnya – tanpa informasi di mana kuburnya.

Dalam laporannya VDC mengutip para bekas tahanan dan petugas penjara yang menyatakan bahwa mereka menyaksikan banyaknya tawanan yang tewas, yang jenazahnya lalu dikirim ke lokasi bernama Najha dan Bahdaliya di tenggara Damascus.

Kesaksian-kesaksian ini selaras dengan laporan para saksi mata tentang pergerakan mobil-mobil pendingin dan kegiatan penggalian, serta pencitraan satelit yang diberikan oleh Human Rights Watch.

VDC yakin bahwa kebanyakan yang dikubur di dua lokasi itu adalah tawanan-tawanan lama yang tewas karena siksaan berat, penyakit dan kekurangan gizi.
Aleppo - 36 Year - Jalal Hilal - Died under torture at Political Security Branch - Kulluna Hamzah

 

 

 

 

 

The Daily Star mewawancarai seorang mahasiswa dari Dara’a, Malik al-Khobbi, 28 tahun, yang dibebaskan dari Cabang 215 (Branch 215) Pusat Intelijen Militer rezim Assad yang terkenal paling kejam sesudah ditahan selama 38 hari. Berbicara di luar Suriah, al-Khobbi menyatakan bahwa bukan saja dia disiksa dan dipukuli, dia juga harus menyaksikan tewasnya sedikitnya dua orang di sel-nya setiap hari.

“Setiap hari mereka letakkan mayat-mayat di satu tempat, lalu para sipir penjara membawa mereka keluar,” demikian al-Khobbi.

Kepada VDC, al-Khobbi juga menyatakan bahwa ada dua kamar di dekat kamar mandi, yang pertama digunakan untuk menyimpan mayat-mayat. Salah seorang sipir penjara memberitahu al-Khobbi bahwa mayat-mayat itu dibawa dengan mobil-mobil militer bercat hijau ke rumah sakit Mazzah (atau Mezzeh) untuk diproses, lalu dibawa ke Najha.

Walid Samhani, seorang bekas sersan yang membelot dan melarikan diri dari posnya di Badan Intelijen Militer rezim Assad dan kini bergabung dengan para pejuang kemerdekaan Suriah di Latakia, menyatakan: “Lantai-lantai ke enam dan ke tujuh” di Branch 214 “adalah tempat interogasi…yang artinya sama dengan penyiksaan dan pembunuhan.”

Beberapa keluarga para tawanan yang tewas berhasil menyogok dan membeli dokumen-dokumen kematian Badan Intelijen Militer, dan menemukan tingginya jumlah orang yang tewas pada bulan September 2011. Pada saat yang bersamaan, pencitraan satelit menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi termasuk tampaknya sebuah lubang galian sangat besar yang dibiarkan terbuka sebagian, pada 8 dan 22 September 2011.

Bukti-bukti penggalian lain ditemukan terjadi pada November 2012 dan Februari 2013, yang diduga oleh Human Rights Watch dilakukan dengan buldoser dan alat-alat berat lainnya.

Peneliti Human Rights Watch, Josh Lyons, sebagaimana dikutip oleh The Daily Star, menyatakan “pencitraan satelit jelas-jelas menunjukkan bahwa dalam masa 8 bulan ada kegiatan penggalian sangat banyak dan terus menerus di dua lokasi penguburan milik pemerintah ini.” (Sahabat Suriah/dari berbagai sumber)